Jumat, 01 Maret 2024

Dibangun Oleh Keturunan Bugis

Dalam sejarahnya, suku bangsa Bugis dikenal sebagai pelaut yang ulung dan gigih. Selain itu, suku bangsa ini juga dikenal tidak berkompromi pada bangsa penjajah. Karena itu, sikap anti dan menentang penjajah terus berkobar pada diri setiap orang Bugis.

Sikap anti-Belanda juga dilakukan oleh Muhammad Soleh bin Karaeng, seorang ulama dan pejuang dari Kesultanan Bone. Akibat sikapnya itu, Muhammad Soleh menjadi buronan penjajah Belanda. Untuk menghindari kejaran Belanda, ia menyelamatkan diri dengan mengembara ke berbagai pelosok Tanah Air. Akhimya, Muhammad Soleh singgah di bagian selatan Pulau Sumatra, tepatnya di Lampung.

Bersama beberapa orang asal Bugis lainnya, di antaranya Daeng Sawijaya, Tumenggung Mohammad Ali, dan Penghulu Besar Kiai Muhammad Said, Muhammad Soleh membangun sebuah surau kecil untuk tempat shalat.

Surau kecil yang dibangun tahun 1839 M itu oleh penduduk se- tempat, nelayan, danpedagang asal Bugis dijadikan tempat ibadah dan tempat untuk membina mental spiritual.

Tahun 1883, Gunung Krakatau meletus. Surau yang dijadikan tempat memberikan bimbingan dan ilmu tentang Islam itu, dengan tiba- tiba hancur berkeping-keping. Selang lima tahun kemudian, yakni 1888 M, setelah amukan Gunung Krakatau, Daeng Sawijaya melalui musyawarah dengan para saudagar dari Palembang, Banten, dan Bugis, disertai semangat yang tinggi, membangun kembali sarana ibadah itu. Mereka tidak lagi mendirikan surau, tetapi langsung mendirikan masjid yang lebih permanen.

Dengan mengacu pada rukun iman, masjid tersebut ditopang enam tiang setinggi kurang lebih delapan meter tanpa menggunakan semen, melainkan campuran putih telur ayam dengan kapur. Oleh mereka, masjid ini kemudian diberi nama Masjid Al-Anwar, artinya adalah yang bercahaya. Penamaan masjid ini diharapkan menjadi sumber cahaya kehidupan yang dapat menerangi umat.

0 komentar:

Posting Komentar